Kembali ke Berita Kegiatan KKN, Program Kerja, Kegiatan Sosial & Keagamaan, Dokumentasi & Luaran, Cerita dari Desa, Prestasi & Apresiasi

Ketika Alam Dieksploitasi, Di Mana Peran Agama? Ngaji Jalanan KKN ITBM Polman Mengangkat Isu Ekoteologi

Arpa
• 24 Oct 2026 • 28 Dilihat • 3 menit baca
Ketika Alam Dieksploitasi, Di Mana Peran Agama? Ngaji Jalanan KKN ITBM Polman Mengangkat Isu Ekoteologi

POLEWALI MANDAR – Ketika alam terus dieksploitasi demi kepentingan ekonomi, muncul pertanyaan mendasar: di mana peran agama dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan Ngaji Jalanan bertema “Ekoteologi: Agama dan Isu Lingkungan Hidup” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Angkatan IV Tahun 2026 Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Polewali Mandar (ITBM Polman), Kamis (22/10/2026), di Rumah Singgah atau Posko KKN Tematik ITBM Polman, Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar.


Kegiatan ini menghadirkan Ng. Damalis, S.Ag., M.Sos., selaku Ketua Ikatan Penyuluh Agama RI Polewali Mandar, dan Muh. Fitrah, S.A.P., M.Pd., dosen ITBM Polman, sebagai narasumber. Diskusi berlangsung dengan mengangkat persoalan hubungan manusia, agama, dan alam, sekaligus mengajak peserta merefleksikan tanggung jawab spiritual dalam menghadapi krisis lingkungan.


Salah satu pertanyaan peserta menyoroti cara pandang yang seharusnya digunakan manusia dalam memperlakukan alam. Peserta mempertanyakan bagaimana manusia dapat melihat alam bukan hanya sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga dari sisi spiritual yang menempatkannya sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang patut dihormati dan dijaga.


Pertanyaan tersebut membawa diskusi pada persoalan yang lebih mendasar, yakni kecenderungan manusia menilai alam berdasarkan manfaat dan keuntungan yang dapat dihasilkan. Padahal, alam tidak sekadar menyediakan sumber daya bagi kehidupan manusia, tetapi juga menopang keberlangsungan hidup berbagai makhluk. Dalam perspektif ekoteologi, hubungan manusia dengan alam perlu dibangun tidak hanya atas dasar pemanfaatan, tetapi juga melalui kesadaran akan amanah, tanggung jawab moral, dan kewajiban menjaga keseimbangan ciptaan Tuhan.


Persoalan berikutnya berkaitan dengan hubungan antara industri kapitalisme dan kerusakan lingkungan. Peserta mengangkat isu bahwa orientasi ekonomi yang hanya mengejar keuntungan dapat mendorong eksploitasi sumber daya alam apabila mengabaikan daya dukung lingkungan serta keselamatan masyarakat. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang bagaimana agama seharusnya bersikap ketika kepentingan ekonomi berhadapan dengan kelestarian alam.


Dalam konteks ini, agama memiliki peran penting sebagai landasan etis untuk mengingatkan manusia agar tidak menjadikan keuntungan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Nilai-nilai keagamaan dapat menjadi dasar untuk mengkritisi praktik eksploitasi yang merusak lingkungan, mendorong keadilan ekologis, serta menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam melindungi alam. Namun, upaya tersebut juga membutuhkan tindakan nyata melalui kebijakan yang bertanggung jawab, kegiatan sosial, dan keterlibatan berbagai pihak.


Perspektif Islam sendiri mengandung pesan tentang larangan membuat kerusakan di bumi. Pesan tersebut, antara lain, tercermin dalam Surah Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia. Ayat ini menjadi pengingat bahwa tindakan manusia terhadap lingkungan memiliki konsekuensi yang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral dan keagamaannya.


Melalui tema ekoteologi, pembahasan agama dan lingkungan hidup tidak berhenti pada persoalan ibadah secara individual, tetapi juga menyentuh tanggung jawab manusia dalam kehidupan sosial. Kesadaran beragama diharapkan dapat tercermin dalam cara manusia mengelola sumber daya, memperlakukan makhluk hidup, mengurangi perilaku yang merusak lingkungan, dan memperjuangkan keberlanjutan bagi generasi mendatang.


Kegiatan Ngaji Jalanan ini menjadi ruang dialog bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan persoalan lingkungan yang semakin relevan. Melalui diskusi tersebut, mahasiswa KKN Tematik Angkatan IV ITBM Polman berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya memperkaya pemahaman keagamaan, tetapi juga mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap kondisi alam di sekitar.


Pada akhirnya, krisis lingkungan bukan semata-mata persoalan alam, melainkan juga persoalan cara manusia membangun hubungan dengan bumi. Ketika alam dipandang hanya sebagai sumber keuntungan, nilai-nilai yang mendorong manusia untuk merawat dan menjaganya berisiko terabaikan. Karena itu, ekoteologi mengajak manusia menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual sekaligus tanggung jawab kemanusiaan.

Bagikan Berita Ini: