Informasi & Publikasi

Berita & Pengumuman KKN

Ikuti perkembangan terbaru, dokumentasi kegiatan posko, serta pengumuman resmi seputar pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata ITBM Polman.

Semua Berita Terbaru

PENUH HARU DAN MAKNA, MAHASISWA KKN ITBM POLMAN GELAR MALAM RAMAH TAMAH DI ALUN-ALUN TOMADIO
25 Oct 2026 • 19 views

PENUH HARU DAN MAKNA, MAHASISWA KKN ITBM POLMAN GELAR MALAM RAMAH TAMAH DI ALUN-ALUN TOMADIO

PAPPANG, 25 OKTOBER 2026 — Penuh haru dan makna, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) POLMAN menggelar malam ramah tamah di Alun-Alun Tomadio pada Minggu, 25 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi momen istimewa untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus mengenang perjalanan pengabdian mahasiswa selama menjalankan program KKN.Malam ramah tamah tersebut menjadi salah satu momen berharga bagi mahasiswa KKN setelah melewati berbagai rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Selama menjalankan tugas di Kelurahan Pappang, mahasiswa tidak hanya melaksanakan program kerja yang telah direncanakan, tetapi juga membangun hubungan kekeluargaan dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial, pendidikan, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.Bertempat di Alun-Alun Tomadio, kegiatan berlangsung dalam suasana kebersamaan dan penuh keakraban. Malam ramah tamah menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk berkumpul, berbagi cerita, serta mengenang berbagai pengalaman yang telah dilalui bersama selama masa pengabdian. Berbagai tantangan, kebersamaan, dan pengalaman berharga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan KKN.Bagi mahasiswa, kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan juga menjadi momentum refleksi atas makna pengabdian kepada masyarakat. Selama melaksanakan KKN, mahasiswa memperoleh banyak pelajaran berharga tentang arti kebersamaan, tanggung jawab, kepedulian, dan pentingnya menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar.Kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat Kelurahan Pappang telah menjadi bagian dari pengalaman yang memberikan warna tersendiri selama masa pengabdian. Melalui berbagai program dan kegiatan, mahasiswa berkesempatan untuk belajar secara langsung dari kehidupan masyarakat sekaligus mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.Suasana malam ramah tamah juga menjadi pengingat bahwa setiap pertemuan memiliki cerita dan setiap kebersamaan meninggalkan kenangan. Hubungan yang terjalin selama pelaksanaan KKN diharapkan tidak berakhir begitu saja setelah kegiatan pengabdian selesai. Sebaliknya, pengalaman tersebut diharapkan menjadi awal dari hubungan silaturahmi yang tetap terjaga pada masa mendatang.Selain menjadi ajang mempererat hubungan antarmahasiswa, malam ramah tamah ini juga mencerminkan pentingnya solidaritas dan kerja sama dalam menjalankan tanggung jawab bersama. Setiap kegiatan yang telah dilaksanakan selama KKN menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan merupakan salah satu kunci dalam menghadapi tantangan dan mewujudkan program kerja yang bermanfaat.Melalui kegiatan malam ramah tamah di Alun-Alun Tomadio, mahasiswa KKN ITBM POLMAN berharap seluruh pengalaman selama pengabdian dapat menjadi bekal berharga dalam perjalanan akademik maupun kehidupan bermasyarakat. Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat, menghadapi berbagai tantangan, dan bekerja sama dalam sebuah tim menjadi pembelajaran yang tidak selalu diperoleh di ruang perkuliahan.Malam itu menjadi pengingat bahwa pengabdian bukan hanya tentang program yang terlaksana, tetapi juga tentang hubungan yang terbangun, pengalaman yang dibagikan, dan kenangan yang akan terus tersimpan. Di balik setiap kegiatan yang telah dilalui, terdapat cerita perjuangan, kebersamaan, dan pelajaran berharga yang membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang lebih peduli dan bertanggung jawab.Dengan terselenggaranya malam ramah tamah ini, mahasiswa KKN ITBM POLMAN berharap semangat kebersamaan, nilai pengabdian, dan tali silaturahmi yang telah terjalin selama berada di Kelurahan Pappang dapat terus terjaga. Sebab, meskipun suatu pengabdian memiliki batas waktu, kenangan dan manfaat yang ditinggalkan di tengah masyarakat diharapkan dapat terus hidup dan memberikan makna bagi semua pihak.

Mengapa Pohon Tak Boleh Dikencingi dan Buah Kuburan Dipantangkan? Ini Penjelasan Andi Sukri
24 Oct 2026 • 50 views

Mengapa Pohon Tak Boleh Dikencingi dan Buah Kuburan Dipantangkan? Ini Penjelasan Andi Sukri

POLEWALI MANDAR – Pantangan yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu tidak selalu sekadar larangan tanpa alasan. Di balik sejumlah kebiasaan yang dikenal masyarakat sebagai pamali, terdapat nilai penghormatan, pertimbangan kemaslahatan, dan pesan moral yang perlu dipahami secara bijaksana. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan menarik dalam sesi dialog kegiatan Ngaji Jalanan bertema “Ekoteologi (Agama dan Isu Lingkungan Hidup)” di Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis malam (22/10/2026).Dalam sesi tanya jawab, Andi Sukri, S.Ag., selaku Sekretaris Umum Majelis Ulama Polewali Mandar, memberikan tanggapan atas pertanyaan peserta mengenai larangan buang air kecil di pohon serta pantangan memakan buah yang tumbuh di area kuburan. Penjelasannya mengajak peserta untuk melihat kebiasaan tersebut tidak hanya dari sisi larangan, tetapi juga dari nilai dan pertimbangan yang melatarbelakanginya.Menanggapi pertanyaan tentang larangan buang air kecil di pohon, Andi Sukri menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk penghargaan atau penghormatan terhadap kemungkinan adanya makhluk Tuhan lain yang hidup di sekitar pohon tersebut.Penjelasan ini membuka ruang pemahaman bahwa lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan manusia. Pohon dan kawasan di sekitarnya juga dapat menjadi tempat hidup berbagai makhluk, sehingga keberadaannya patut diperlakukan dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat.Pembahasan kemudian berlanjut pada pertanyaan mengenai pantangan memakan buah yang tumbuh di area kuburan. Dalam tanggapannya, Andi Sukri menjelaskan bahwa salah satu hal yang perlu diperhatikan ialah status tanah pemakaman yang biasanya telah diwakafkan. Karena itu, pemanfaatan sesuatu yang tumbuh di kawasan tersebut perlu mempertimbangkan status tanah, tujuan wakaf, serta ketentuan yang berlaku.Penjelasan tersebut memberikan pemahaman bahwa persoalan yang berkaitan dengan area pemakaman tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan kebiasaan turun-temurun. Ada aspek penghormatan terhadap tempat pemakaman dan pertimbangan mengenai pemanfaatan tanah yang perlu diperhatikan.Lebih lanjut, Andi Sukri menyinggung kebiasaan orang tua terdahulu atau nenek moyang yang menggunakan istilah pamali untuk menyampaikan larangan tertentu. Menurut penjelasannya, istilah tersebut dapat dipahami sebagai sarana budaya yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan membatasi perilaku masyarakat. Di balik larangan-larangan itu, terdapat pertimbangan kemaslahatan yang perlu ditelaah dengan baik.Dalam kehidupan masyarakat, tradisi dan kebiasaan diwariskan melalui berbagai cara, termasuk nasihat, pantangan, serta ungkapan yang mudah diingat. Namun, pemahaman terhadap tradisi tersebut perlu disertai sikap bijaksana agar masyarakat dapat membedakan antara nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya dan alasan yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut.Dialog tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari kegiatan Ngaji Jalanan karena memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengajukan pertanyaan dan memperoleh penjelasan secara langsung. Pembahasan mengenai pantangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari juga memperlihatkan bahwa kajian keagamaan dapat menjadi ruang untuk mendiskusikan hubungan antara ajaran agama, kebudayaan masyarakat, dan kehidupan lingkungan.Kegiatan Ngaji Jalanan diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Polewali Mandar pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 20.00 WITA, bertempat di Rumah Singgah Lampoko atau Posko KKN Tematik ITBM Polman. Kegiatan ini mengusung tema “Ekoteologi (Agama dan Isu Lingkungan Hidup)” dengan menghadirkan sejumlah narasumber untuk membahas persoalan keagamaan dan lingkungan dari sudut pandang yang beragam.Melalui dialog tersebut, peserta memperoleh ruang untuk menggali makna di balik kebiasaan yang berkembang di masyarakat. Pembahasan ini sekaligus mengingatkan pentingnya memahami tradisi secara arif, menghormati lingkungan dan tempat pemakaman, serta mempertimbangkan kemaslahatan dalam kehidupan bermasyarakat.Dengan demikian, Ngaji Jalanan tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga ruang pertukaran pemikiran yang menghubungkan pertanyaan masyarakat dengan penjelasan keagamaan dan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Ketika Alam Dieksploitasi, Di Mana Peran Agama? Ngaji Jalanan KKN ITBM Polman Mengangkat Isu Ekoteologi
24 Oct 2026 • 28 views

Ketika Alam Dieksploitasi, Di Mana Peran Agama? Ngaji Jalanan KKN ITBM Polman Mengangkat Isu Ekoteologi

POLEWALI MANDAR – Ketika alam terus dieksploitasi demi kepentingan ekonomi, muncul pertanyaan mendasar: di mana peran agama dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan Ngaji Jalanan bertema “Ekoteologi: Agama dan Isu Lingkungan Hidup” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Angkatan IV Tahun 2026 Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Polewali Mandar (ITBM Polman), Kamis (22/10/2026), di Rumah Singgah atau Posko KKN Tematik ITBM Polman, Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar.Kegiatan ini menghadirkan Ng. Damalis, S.Ag., M.Sos., selaku Ketua Ikatan Penyuluh Agama RI Polewali Mandar, dan Muh. Fitrah, S.A.P., M.Pd., dosen ITBM Polman, sebagai narasumber. Diskusi berlangsung dengan mengangkat persoalan hubungan manusia, agama, dan alam, sekaligus mengajak peserta merefleksikan tanggung jawab spiritual dalam menghadapi krisis lingkungan.Salah satu pertanyaan peserta menyoroti cara pandang yang seharusnya digunakan manusia dalam memperlakukan alam. Peserta mempertanyakan bagaimana manusia dapat melihat alam bukan hanya sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga dari sisi spiritual yang menempatkannya sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang patut dihormati dan dijaga.Pertanyaan tersebut membawa diskusi pada persoalan yang lebih mendasar, yakni kecenderungan manusia menilai alam berdasarkan manfaat dan keuntungan yang dapat dihasilkan. Padahal, alam tidak sekadar menyediakan sumber daya bagi kehidupan manusia, tetapi juga menopang keberlangsungan hidup berbagai makhluk. Dalam perspektif ekoteologi, hubungan manusia dengan alam perlu dibangun tidak hanya atas dasar pemanfaatan, tetapi juga melalui kesadaran akan amanah, tanggung jawab moral, dan kewajiban menjaga keseimbangan ciptaan Tuhan.Persoalan berikutnya berkaitan dengan hubungan antara industri kapitalisme dan kerusakan lingkungan. Peserta mengangkat isu bahwa orientasi ekonomi yang hanya mengejar keuntungan dapat mendorong eksploitasi sumber daya alam apabila mengabaikan daya dukung lingkungan serta keselamatan masyarakat. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang bagaimana agama seharusnya bersikap ketika kepentingan ekonomi berhadapan dengan kelestarian alam.Dalam konteks ini, agama memiliki peran penting sebagai landasan etis untuk mengingatkan manusia agar tidak menjadikan keuntungan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Nilai-nilai keagamaan dapat menjadi dasar untuk mengkritisi praktik eksploitasi yang merusak lingkungan, mendorong keadilan ekologis, serta menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam melindungi alam. Namun, upaya tersebut juga membutuhkan tindakan nyata melalui kebijakan yang bertanggung jawab, kegiatan sosial, dan keterlibatan berbagai pihak.Perspektif Islam sendiri mengandung pesan tentang larangan membuat kerusakan di bumi. Pesan tersebut, antara lain, tercermin dalam Surah Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia. Ayat ini menjadi pengingat bahwa tindakan manusia terhadap lingkungan memiliki konsekuensi yang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral dan keagamaannya.Melalui tema ekoteologi, pembahasan agama dan lingkungan hidup tidak berhenti pada persoalan ibadah secara individual, tetapi juga menyentuh tanggung jawab manusia dalam kehidupan sosial. Kesadaran beragama diharapkan dapat tercermin dalam cara manusia mengelola sumber daya, memperlakukan makhluk hidup, mengurangi perilaku yang merusak lingkungan, dan memperjuangkan keberlanjutan bagi generasi mendatang.Kegiatan Ngaji Jalanan ini menjadi ruang dialog bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan persoalan lingkungan yang semakin relevan. Melalui diskusi tersebut, mahasiswa KKN Tematik Angkatan IV ITBM Polman berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya memperkaya pemahaman keagamaan, tetapi juga mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap kondisi alam di sekitar.Pada akhirnya, krisis lingkungan bukan semata-mata persoalan alam, melainkan juga persoalan cara manusia membangun hubungan dengan bumi. Ketika alam dipandang hanya sebagai sumber keuntungan, nilai-nilai yang mendorong manusia untuk merawat dan menjaganya berisiko terabaikan. Karena itu, ekoteologi mengajak manusia menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual sekaligus tanggung jawab kemanusiaan.

Bencana Alam atau Bencana Kebijakan? Ngaji Jalanan di Lampoko Angkat Pertanyaan tentang Tanggung Jawab Manusia
24 Oct 2026 • 33 views

Bencana Alam atau Bencana Kebijakan? Ngaji Jalanan di Lampoko Angkat Pertanyaan tentang Tanggung Jawab Manusia

Lampoko – Ketika bencana terjadi, apakah alam menjadi satu-satunya penyebab, atau keputusan manusia juga dapat memperbesar risiko dan dampaknya? Pertanyaan tersebut mengemuka dalam sesi dialog kegiatan Ngaji Jalanan bertema “Ekoteologi (Agama dan Isu Lingkungan Hidup)” yang diselenggarakan mahasiswa KKN Tematik Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Polewali Mandar di Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis malam (22/10/2026).Pertanyaan itu diajukan oleh salah seorang peserta yang menyoroti hubungan antara kerusakan lingkungan, amanah manusia dalam perspektif agama, dan kebijakan yang memengaruhi pengelolaan alam. Peserta tersebut mempertanyakan apakah bencana yang terjadi di tengah masyarakat harus dipahami semata-mata sebagai bencana alam, atau terdapat pula kondisi yang dapat disebut sebagai bencana kebijakan akibat keputusan manusia yang kurang memperhatikan lingkungan.Pertanyaan tersebut mendapat tanggapan dari Ng. Damalis, S.Ag., M.Sos., selaku Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia Polewali Mandar. Pembahasan mengenai persoalan tersebut dapat dilihat melalui dua sisi yang saling berkaitan, yakni tanggung jawab manusia menurut ajaran agama dan peran kebijakan dalam pengelolaan lingkungan serta pengurangan risiko bencana.Dari perspektif agama, manusia memiliki amanah untuk menjaga bumi dan tidak melakukan tindakan yang menimbulkan kerusakan. Amanah tersebut menuntut manusia agar tidak hanya memikirkan manfaat yang diperoleh dari alam, tetapi juga mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.Sementara itu, dari sisi kebijakan, keputusan mengenai tata ruang, pembangunan, pengelolaan sampah, perlindungan hutan, dan pemanfaatan lahan dapat memengaruhi tingkat risiko bencana. Kebijakan yang memperhatikan kondisi lingkungan dan keselamatan masyarakat dapat membantu mengurangi risiko, sedangkan perencanaan yang mengabaikan kondisi alam berpotensi memperbesar kerentanan suatu wilayah.Bencana memang dapat dipicu oleh fenomena alam, seperti hujan ekstrem, gempa bumi, dan aktivitas vulkanik. Namun, dampak yang ditimbulkan tidak selalu ditentukan oleh fenomena tersebut saja. Kondisi lingkungan, kesiapan masyarakat, kualitas infrastruktur, dan tata kelola wilayah turut memengaruhi tingkat kerugian yang mungkin terjadi.Sebagai contoh, hujan dengan intensitas tinggi dapat memicu banjir ketika aliran air terhambat, kawasan resapan berkurang, atau sistem drainase tidak memadai. Dalam kondisi tertentu, kerusakan tutupan lahan juga dapat meningkatkan risiko bencana. Hal ini menunjukkan pentingnya membedakan antara pemicu alami dan faktor manusia yang dapat memperbesar dampak suatu peristiwa.Istilah bencana kebijakan dalam pembahasan ini dapat dipahami sebagai cara kritis untuk melihat bagaimana keputusan atau pelaksanaan kebijakan tertentu berkontribusi terhadap risiko bencana. Istilah tersebut tidak berarti semua bencana disebabkan oleh kebijakan yang buruk, tetapi menekankan pentingnya evaluasi terhadap keputusan manusia dalam mengelola lingkungan.Dari sisi keagamaan, persoalan ini juga mengajak manusia untuk melakukan introspeksi terhadap amanah yang dimiliki. Tanggung jawab menjaga alam perlu diwujudkan melalui tindakan individu, kepedulian masyarakat, serta keputusan pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan dan keselamatan bersama.Kegiatan Ngaji Jalanan berlangsung pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 20.00 WITA, bertempat di Rumah Singgah Lampoko atau Posko KKN Tematik ITBM Polman. Melalui forum tersebut, peserta memiliki kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan mengenai persoalan lingkungan dan memperoleh tanggapan dalam diskusi yang menghubungkan agama dengan realitas kehidupan.Pertanyaan tentang bencana alam dan bencana kebijakan memperluas pembahasan ekoteologi dari persoalan moral individu menuju tanggung jawab bersama. Menjaga lingkungan tidak hanya memerlukan kesadaran untuk tidak merusak alam, tetapi juga perencanaan, pengelolaan, dan kebijakan yang mempertimbangkan keberlanjutan kehidupan.Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul dalam dialog tersebut mengingatkan bahwa menghadapi bencana memerlukan pemahaman yang menyeluruh. Fenomena alam perlu dipahami berdasarkan kondisi ilmiahnya, sementara keputusan dan tindakan manusia perlu dievaluasi agar risiko dapat dikurangi dan keselamatan masyarakat lebih terlindungi.

Ketika Manusia Merasa sebagai Pusat Dunia, Siapa yang Menanggung Kerusakan Alam?
24 Oct 2026 • 23 views

Ketika Manusia Merasa sebagai Pusat Dunia, Siapa yang Menanggung Kerusakan Alam?

Lampoko – Apakah kerusakan lingkungan terjadi karena manusia mengabaikan amanah Tuhan, atau karena manusia merasa dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu? Pertanyaan kritis tersebut menjadi salah satu pembahasan menarik dalam dialog kegiatan Ngaji Jalanan bertema “Ekoteologi (Agama dan Isu Lingkungan Hidup)” yang diselenggarakan mahasiswa KKN Tematik Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Polewali Mandar di Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis malam (22/10/2026).Dalam sesi tanya jawab, salah seorang peserta mengangkat pandangan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan tindakan manusia yang mengabaikan amanah dari Tuhan, tetapi juga dengan cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan. Ketika manusia merasa memiliki kuasa penuh atas alam, lingkungan berisiko diperlakukan hanya sebagai objek untuk memenuhi kepentingan pribadi maupun ekonomi.Peserta tersebut kemudian mempertanyakan bagaimana persoalan itu dipahami dari sudut pandang agama. Apakah kerusakan lingkungan merupakan akibat manusia yang telah menggeser amanahnya, atau justru berawal dari pola pikir yang menganggap bahwa alam tersedia semata-mata untuk kepentingan manusia?Pertanyaan itu mendapat tanggapan dari Ng. Damalis, S.Ag., M.Sos., selaku Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Polewali Mandar. Pembahasan diarahkan pada pentingnya melihat persoalan lingkungan melalui perspektif keagamaan sekaligus memperhatikan perilaku manusia dalam memperlakukan alam.Dalam perspektif Islam, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Tanggung jawab tersebut tidak semestinya dimaknai sebagai kebebasan untuk mengeksploitasi alam tanpa batas, tetapi sebagai amanah untuk mengelola, memelihara, dan menjaga keberlangsungan kehidupan.Cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat kepentingan dapat menjadi persoalan ketika kebutuhan dan keuntungan jangka pendek lebih diutamakan daripada kelestarian lingkungan. Hutan dapat kehilangan fungsinya akibat kerusakan, sungai dapat tercemar oleh sampah, dan ruang hidup masyarakat dapat terancam ketika pemanfaatan alam tidak memperhitungkan dampak jangka panjang.Persoalan tersebut menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya berkaitan dengan tindakan yang terlihat, tetapi juga dengan cara manusia memahami kedudukannya di tengah alam. Kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari kehidupan dan memiliki tanggung jawab moral terhadap lingkungan menjadi hal penting dalam membangun perilaku yang lebih bijaksana.Melalui tema ekoteologi, hubungan antara agama dan lingkungan menjadi ruang refleksi bahwa tanggung jawab spiritual perlu tercermin dalam tindakan nyata. Kepedulian terhadap alam tidak cukup berhenti pada pemahaman atau nasihat, tetapi perlu diwujudkan melalui kebiasaan menjaga kebersihan, mengelola sampah dengan benar, serta menggunakan sumber daya alam secara bertanggung jawab.Kegiatan Ngaji Jalanan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 20.00 WITA, di Rumah Singgah Lampoko atau Posko KKN Tematik ITBM Polman. Kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi peserta untuk menyampaikan pertanyaan dan membahas persoalan lingkungan dari sudut pandang keagamaan.Melalui diskusi tersebut, peserta diajak untuk melihat kembali hubungan manusia dengan alam, termasuk bagaimana pola pikir dan tindakan manusia dapat memengaruhi kelestarian lingkungan. Pertanyaan kritis yang muncul menjadi pengingat bahwa menjaga bumi membutuhkan perubahan cara pandang sekaligus tindakan yang bertanggung jawab.Pada akhirnya, persoalan lingkungan mengajak manusia untuk melakukan introspeksi: apakah alam diperlakukan sebagai amanah yang harus dijaga, atau sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan tanpa mempertimbangkan akibatnya?

Dari Ayat Menjadi Aksi: Ngaji Jalanan ITBM Polman Bahas Tanggung Jawab Manusia terhadap Lingkungan
23 Oct 2026 • 12 views

Dari Ayat Menjadi Aksi: Ngaji Jalanan ITBM Polman Bahas Tanggung Jawab Manusia terhadap Lingkungan

Lampoko – Menjaga kelestarian lingkungan bukan sekadar persoalan sosial, melainkan juga bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan yang disampaikan Muh. Fitrah, S.A.P., M.Pd., dalam kegiatan Ngaji Jalanan bertema “Ekoteologi (Agama dan Isu Lingkungan Hidup)” yang diselenggarakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Polewali Mandar di Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis malam (22/10/2026).Dalam pemaparannya, Muh. Fitrah menjelaskan bahwa Allah Swt. telah memberikan tanggung jawab kepada manusia untuk menjadi khalifah di bumi. Hal tersebut dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, yang menerangkan kehendak Allah Swt. untuk menjadikan khalifah di bumi.Konsep khalifah tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab dalam mengelola dan memelihara kehidupan di bumi. Alam bukan hanya tempat manusia menjalani kehidupan, tetapi juga amanah yang harus dijaga agar tetap memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.Selain Surah Al-Baqarah ayat 30, Muh. Fitrah juga mengaitkan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan dengan pesan Allah Swt. dalam Surah Al-A’raf ayat 56. Ayat tersebut mengandung larangan untuk membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.Pesan tersebut relevan dengan berbagai persoalan lingkungan yang masih menjadi perhatian, mulai dari kebiasaan membuang sampah sembarangan, pencemaran lingkungan, hingga kerusakan hutan dan alam. Berbagai persoalan tersebut menunjukkan pentingnya membangun kesadaran bersama untuk menjaga keseimbangan lingkungan.Melalui perspektif ekoteologi, nilai-nilai keagamaan dapat menjadi landasan moral dalam membentuk perilaku yang lebih peduli terhadap alam. Menjaga kebersihan, mengelola sampah dengan baik, merawat tumbuhan, serta tidak melakukan tindakan yang merusak lingkungan merupakan bentuk sederhana dari tanggung jawab manusia terhadap bumi.Kegiatan Ngaji Jalanan ini dilaksanakan pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 20.00 WITA, bertempat di Rumah Singgah Lampoko atau Posko KKN Tematik ITBM Polman. Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Ng. Damalis, S.Ag., M.Sos., selaku Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia Polewali Mandar, serta Muh. Fitrah, S.A.P., M.Pd., dosen ITBM Polman. Diskusi dipandu oleh Arpa, mahasiswa ITBM Polman, sebagai moderator.Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik ITBM Polman berupaya menghadirkan ruang edukasi keagamaan yang menghubungkan ajaran Islam dengan persoalan lingkungan hidup. Tema ekoteologi diangkat untuk memperkuat pemahaman bahwa kepedulian terhadap alam merupakan bagian penting dari tanggung jawab manusia dalam menjalankan kehidupannya.Pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Sebab, tanggung jawab sebagai khalifah tidak cukup hanya dipahami, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku yang menjaga kelestarian alam dan menghindari segala bentuk kerusakan lingkungan.

Tuntaskan Batas Wilayah yang Kabur, Mahasiswa KKN ITBM Polman dan Warga Pasang Patok Batas Dusun di Desa Sabang Subik
23 Oct 2026 • 8 views

Tuntaskan Batas Wilayah yang Kabur, Mahasiswa KKN ITBM Polman dan Warga Pasang Patok Batas Dusun di Desa Sabang Subik

SABANG SUBIK — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Polman bersama warga lokal melaksanakan kegiatan penanaman dan penandaan lokasi batas wilayah. Aksi nyata ini difokuskan untuk memperjelas batas teritorial Dusun 1, Dusun 2, dan Dusun 3 di Desa Sabang Subik secara akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.Kegiatan kolaboratif ini diinisiasi sebagai bentuk respons cepat atas berbagai keluhan yang selama ini dirasakan oleh masyarakat setempat. Sebelumnya, warga sering kali menghadapi kendala dan kebingungan akibat batas wilayah antar dusun yang kurang jelas. Kondisi batas yang kabur tersebut dinilai berpotensi menyulitkan pendataan kependudukan, koordinasi kegiatan kemasyarakatan, serta perencanaan pembangunan di tingkat dusun.Pelaksanaan penandaan batas wilayah ini dilakukan secara gotong royong langsung di lapangan. Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga patok pembatas dusun yang berhasil ditancapkan dengan cermat di titik-titik krusial yang telah disepakati bersama. Proses pemasangan patok ini melibatkan peninjauan lapangan yang teliti agar posisinya adil, proporsional, dan sesuai dengan batas teritorial masing-masing dusun yang bersangkutan.Kehadiran warga lokal dalam kegiatan ini memegang peranan yang sangat penting. Beberapa warga turut mendampingi dan berpartisipasi aktif mendampingi mahasiswa KKN di lokasi penancapan patok. Keterlibatan langsung masyarakat setempat memastikan bahwa penentuan titik batas telah sesuai dengan pemahaman turun-temurun yang dipegang oleh warga, sehingga keakuratan data wilayah dapat terjaga dengan baik tanpa menimbulkan gesekan di kemudian hari.Melalui pemasangan tanda batas wilayah ini, tata kelola administratif di tingkat dusun diharapkan menjadi jauh lebih tertib, terstruktur, dan akuntabel. Informasi mengenai cakupan wilayah Dusun 1, Dusun 2, dan Dusun 3 kini memiliki kepastian fisik yang dapat disaksikan dan dipahami bersama oleh seluruh elemen masyarakat. Hal ini tentu akan mempermudah pemerintah desa dalam merencanakan program pembangunan yang merata serta memberikan pelayanan publik yang lebih optimal dan tepat sasaran.Program kerja penandaan batas dusun ini menjadi salah satu bentuk pengabdian nyata yang sangat fungsional dari mahasiswa KKN ITBM Polman di Desa Sabang Subik. Fasilitas penanda wilayah yang telah terpasang dengan kokoh ini diharapkan dapat dijaga dan dirawat bersama oleh seluruh warga desa. Dengan batas wilayah yang kini semakin jelas, keharmonisan, ketertiban, serta semangat gotong royong antarwarga di Desa Sabang Subik akan terus terpelihara dengan baik demi kemajuan bersama ke depannya.Laporan: Muhammad Farhan Mahasiswa KKN ITBM Polman

Semarak Lomba Sepak Bola KKN ITBM Polman di Desa Karama, SDN 012 Karama A Raih Juara Pertama
23 Oct 2026 • 7 views

Semarak Lomba Sepak Bola KKN ITBM Polman di Desa Karama, SDN 012 Karama A Raih Juara Pertama

POLEWALI MANDAR – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Angkatan IV Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Polewali Mandar (ITBM Polman) menggelar lomba sepak bola antarsekolah di Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, pada 17–18 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para siswa untuk mengembangkan bakat olahraga, menumbuhkan semangat sportivitas, serta mempererat persaudaraan antarpelajar.Lomba ini diikuti oleh sejumlah tim dari sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, di antaranya SDN 012 Karama, SDN 067 Lambe, SDN 052 Jemarang, SDN Jemarang, MIS YP Manjopai, dan SDN 013 Mojopahit. Para peserta menunjukkan antusiasme dan semangat dalam mengikuti setiap pertandingan.Pertandingan dimulai pada Sabtu (17/10/2026) dan berlanjut pada Minggu (18/10/2026), meliputi babak penyisihan, semifinal, perebutan posisi ketiga, hingga partai final. Setiap tim berusaha menampilkan permainan terbaik dengan mengutamakan kekompakan dan kerja sama.Pada akhir kompetisi, SDN 012 Karama A berhasil meraih juara pertama. Tim ini diperkuat oleh tujuh pemain, yaitu Muhammad Abid Ubaidy, Ahmad Tauhid, Ahmad Syafi'i, Iif Febrian, Muhammad Irsyad, Muhammad Nuhung, dan Muhammad Husain. Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian membanggakan bagi para pemain yang telah berjuang dan menunjukkan kemampuan mereka selama kompetisi.Selain SDN 012 Karama A, tiga tim lainnya juga menempati posisi terbaik, yaitu MIS YP Manjopai A, SDN 012 Karama B, dan MIS YP Manjopai B. Keikutsertaan beberapa tim dari sekolah yang sama menunjukkan antusiasme para siswa dalam mengikuti kompetisi sekaligus menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan pengalaman bertanding.Semangat kegiatan ini tergambar dalam sebuah pesan yang mengangkat potensi anak-anak Desa Karama.“Dari tanah Karama yang sederhana, lahir talenta-talenta luar biasa. Hari ini mereka bukan hanya bertanding antarsekolah, tetapi menunjukkan bahwa mereka juga bisa bermimpi besar. Ini bukan sekadar pertandingan bola antarsekolah dasar, melainkan panggung bagi anak-anak berbakat Desa Karama. Lapangan mungkin tidak selalu mulus, tetapi bakat dan semangat anak-anaknya tidak pernah setengah-setengah. Dari Desa Karama untuk masa depan. Selamat bertanding, calon bintang-bintang dari Karama.”Pesan tersebut mencerminkan harapan agar anak-anak di Desa Karama memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan mengembangkan potensi mereka. Melalui olahraga, para siswa dapat belajar tentang kerja sama, disiplin, keberanian, menghargai lawan, dan menerima hasil pertandingan dengan sportif.Lomba sepak bola ini menjadi salah satu bentuk kegiatan mahasiswa KKN ITBM Polman dalam mendorong aktivitas positif bagi anak-anak dan generasi muda. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga mempertemukan para pelajar dari berbagai sekolah dalam suasana kebersamaan.Mahasiswa KKN ITBM Polman berharap kegiatan serupa dapat terus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat dan minat mereka. Dari Desa Karama, semangat dan potensi anak-anak diharapkan terus tumbuh sebagai bekal untuk meraih prestasi dan mewujudkan cita-cita pada masa depan.

Bumi Bukan Sekadar Warisan: Ng. Damalis Ajak Masyarakat Menjaga Alam sebagai Amanah Generasi Mendatang
22 Oct 2026 • 7 views

Bumi Bukan Sekadar Warisan: Ng. Damalis Ajak Masyarakat Menjaga Alam sebagai Amanah Generasi Mendatang

Lampoko – “Bumi ini bukan milik kita, tetapi titipan untuk anak cucu kita.” Pesan tersebut disampaikan Ng. Damalis, S.Ag., M.Sos., selaku Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Polewali Mandar, dalam tausiah pada kegiatan Ngaji Jalanan bertema “Ekoteologi (Agama dan Isu Lingkungan Hidup)” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Polewali Mandar di Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis malam (22/10/2026).Dalam penyampaiannya, Ng. Damalis menegaskan bahwa bumi dan seluruh kekayaan alam yang ada di dalamnya harus dipandang sebagai amanah yang perlu dijaga, bukan sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan tanpa mempertimbangkan kelestariannya. Manusia memiliki tanggung jawab untuk merawat lingkungan agar tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.Menurutnya, menjaga alam bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama seluruh manusia. Kepedulian terhadap lingkungan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, hingga menghindari perilaku yang dapat merusak ekosistem.Ia juga mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui perkataan. Kesadaran tersebut harus tercermin dalam perilaku dan kebiasaan sehari-hari.“Jangan sampai kita hanya berbicara tentang menjaga alam, tetapi perilaku kita justru merusaknya,” demikian pesan yang disampaikan dalam tausiah tersebut.Pesan itu menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan membutuhkan kesesuaian antara pengetahuan, ucapan, dan tindakan. Seseorang dapat menyampaikan pentingnya pelestarian alam, tetapi nilai kepedulian tersebut akan lebih bermakna apabila diwujudkan melalui kebiasaan yang mendukung kelestarian lingkungan.Dalam konteks ekoteologi, kepedulian terhadap alam memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai keagamaan dan tanggung jawab moral manusia. Ajaran agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga memberikan landasan etis bagi manusia untuk memperlakukan alam secara bertanggung jawab.Berbagai persoalan lingkungan, seperti penumpukan sampah, pencemaran, dan kerusakan alam, menunjukkan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam menjaga kelestarian bumi. Perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, baik di lingkungan rumah, tempat ibadah, maupun ruang publik.Kegiatan Ngaji Jalanan ini dilaksanakan pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 20.00 WITA, bertempat di Rumah Singgah Lampoko atau Posko KKN Tematik ITBM Polman. Selain menghadirkan Ng. Damalis, S.Ag., M.Sos., kegiatan ini juga menghadirkan Muh. Fitrah, S.A.P., M.Pd., dosen ITBM Polman, sebagai narasumber kedua. Diskusi dipandu oleh Arpa, mahasiswa ITBM Polman, sebagai moderator.Melalui kegiatan bertema ekoteologi ini, mahasiswa KKN Tematik ITBM Polman berupaya menghadirkan ruang edukasi keagamaan yang menghubungkan nilai-nilai agama dengan persoalan lingkungan hidup. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.Pesan yang disampaikan Ng. Damalis mengajak setiap orang untuk memandang pelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab lintas generasi. Bumi yang dinikmati saat ini perlu dijaga agar anak cucu kelak tetap dapat merasakan manfaat dan keindahan alam.Pada akhirnya, menjaga bumi bukan hanya tentang menyampaikan seruan kepedulian, tetapi tentang keberanian untuk memulai perubahan melalui tindakan nyata. Sebab, lingkungan yang lestari tidak terwujud hanya melalui kata-kata, melainkan melalui kepedulian dan tanggung jawab yang dilakukan bersama.

BPJS Ketenagakerjaan Bersama KNTI Edukasi Pekerja Informal tentang Perlindungan Jaminan Sosial di Desa Karama
22 Oct 2026 • 14 views

BPJS Ketenagakerjaan Bersama KNTI Edukasi Pekerja Informal tentang Perlindungan Jaminan Sosial di Desa Karama

KARAMA, 18 Oktober 2026 — BPJS Ketenagakerjaan bekerja sama dengan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyelenggarakan sosialisasi program jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja informal dan mandiri di Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya nelayan dan pekerja mandiri, mengenai pentingnya perlindungan jaminan sosial dalam menghadapi risiko yang berkaitan dengan pekerjaan.Kegiatan dibuka oleh Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Polewali Mandar, Melania Theresia Mokalu. Selanjutnya, materi disampaikan oleh Nunu selaku perwakilan penyelenggara yang menjelaskan berbagai manfaat program, ketentuan iuran, persyaratan pendaftaran, serta mekanisme kepesertaan bagi pekerja Bukan Penerima Upah (BPU).Dalam pemaparannya, peserta diberikan pemahaman bahwa jaminan sosial ketenagakerjaan tidak hanya ditujukan kepada pekerja formal atau karyawan perusahaan. Masyarakat yang menjalankan pekerjaan secara mandiri, seperti nelayan, petani, dan pedagang, juga memiliki kesempatan untuk memperoleh perlindungan sesuai dengan ketentuan program yang berlaku.Perwakilan BPJS Ketenagakerjaan menegaskan bahwa setiap pekerjaan memiliki risiko yang perlu diantisipasi. Kecelakaan saat bekerja maupun risiko meninggal dunia dapat terjadi tanpa diduga sehingga perlindungan jaminan sosial menjadi salah satu langkah penting untuk memberikan rasa aman bagi pekerja dan keluarganya.Materi sosialisasi membahas tiga program utama, yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), dan Jaminan Hari Tua (JHT). JKK memberikan perlindungan atas risiko kecelakaan kerja sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara itu, JKM memberikan manfaat berupa santunan kepada ahli waris apabila peserta meninggal dunia sesuai persyaratan program. Adapun JHT merupakan manfaat tabungan yang dapat dicairkan berdasarkan ketentuan kepesertaan.Selain penjelasan mengenai manfaat program, masyarakat juga memperoleh informasi tentang besaran iuran bagi pekerja mandiri. Dalam sosialisasi tersebut, disampaikan nominal iuran sebesar Rp16.800 per bulan untuk program JKK dan JKM serta Rp36.800 per bulan untuk kepesertaan yang mencakup JKK, JKM, dan JHT. Peserta turut diberikan penjelasan mengenai persyaratan administrasi, termasuk penggunaan KTP elektronik (e-KTP) dan ketentuan usia calon peserta.Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Salah satu pertanyaan disampaikan oleh Novita Sari Ridwan yang ingin mengetahui perbedaan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja pada umumnya dengan perlindungan yang diberikan kepada mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ia juga menanyakan kemungkinan melanjutkan kepesertaan setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir.Menanggapi pertanyaan tersebut, pihak BPJS Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa perlindungan yang diberikan mengacu pada program dan ketentuan kepesertaan yang berlaku. Mahasiswa KKN yang terdaftar sebagai peserta memperoleh perlindungan sesuai cakupan programnya. Kepesertaan juga dapat dilanjutkan secara mandiri setelah kegiatan KKN selesai dengan mengikuti prosedur yang ditetapkan.Pertanyaan lain datang dari salah seorang warga Desa Karama yang bekerja sebagai nelayan. Ia menanyakan kemungkinan menjadi peserta BPJS Kesehatan sekaligus BPJS Ketenagakerjaan, serta konsekuensi apabila pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan terhenti selama tiga bulan.Pihak BPJS Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan merupakan dua program jaminan sosial dengan fungsi dan manfaat yang berbeda. Oleh karena itu, masyarakat dapat terdaftar dalam keduanya secara bersamaan sesuai persyaratan yang berlaku. Sementara itu, keterlambatan atau penghentian pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan dapat memengaruhi status kepesertaan dan hak atas manfaat sesuai ketentuan program.Melalui kegiatan sosialisasi ini, BPJS Ketenagakerjaan bersama KNTI berharap masyarakat Desa Karama semakin memahami pentingnya perlindungan jaminan sosial, terutama bagi nelayan dan pekerja informal yang menghadapi berbagai risiko dalam menjalankan pekerjaannya. Kegiatan ini juga diharapkan membantu masyarakat mengenali manfaat program, memahami prosedur pendaftaran, serta menentukan jenis perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masing-masing.