Kembali ke Berita Koordinasi & Kolaborasi, Potensi & Profil Desa, Pemberdayaan Masyarakat

KNTI Polewali Mandar Sosialisasikan Pemetaan Wilayah Tangkap Nelayan di Desa Karama

Muqarrama
• 18 Oct 2026 • 3 Dilihat • 3 menit baca
KNTI Polewali Mandar Sosialisasikan Pemetaan Wilayah Tangkap Nelayan di Desa Karama

KARAMA, TINAMBUNG — Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Polewali Mandar bersama perwakilan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menggelar sosialisasi pemetaan partisipatif tenurial dan hak-hak nelayan tradisional di Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada Sabtu (17/10/2026). Kegiatan ini membahas pentingnya pendataan wilayah tangkap, pencatatan hasil perikanan, keselamatan melaut, serta penguatan hak-hak nelayan tradisional.


Sekretaris Desa Karama, Taslim, menyampaikan bahwa masyarakat nelayan di desanya masih mengandalkan metode penangkapan ikan secara tradisional.

“Masyarakat Desa Karama itu semua nelayannya masih nelayan tradisional,” ujar Taslim.

Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan dukungan terhadap nelayan, terutama terkait informasi, teknologi pendukung kegiatan melaut, dan perlindungan hak-hak mereka.


Dalam sosialisasi tersebut, perwakilan Unsulbar bersama KNTI memberikan pemahaman mengenai pemetaan partisipatif melalui pencatatan hasil tangkapan dan penandaan koordinat lokasi penangkapan ikan. Nelayan diperkenalkan dengan penggunaan perangkat navigasi seperti Global Positioning System (GPS) untuk membantu mendokumentasikan lokasi mereka menangkap ikan.


Pencatatan yang dilakukan secara rutin dapat membantu nelayan membangun data mengenai wilayah tangkap dan hasil perikanan. Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk mengenali pola aktivitas melaut dari waktu ke waktu.

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, nelayan setempat dapat melaut sejauh 30 hingga 100 mil dengan waktu tempuh sekitar tiga hingga empat jam. Jarak tersebut menunjukkan pentingnya informasi lokasi penangkapan yang dapat membantu nelayan mengenali wilayah tangkap dan mendukung navigasi selama berada di laut.


Data lokasi juga dapat menjadi informasi pendukung ketika nelayan menghadapi kondisi yang menyulitkan perjalanan, seperti kabut dan gelombang besar. Meski demikian, pencatatan koordinat perlu dipadukan dengan keterampilan navigasi dan pemantauan kondisi cuaca agar keselamatan selama melaut tetap diperhatikan.


Selain berkaitan dengan navigasi, pemetaan partisipatif dapat mendukung pengelolaan sumber daya laut. Pencatatan jenis, ukuran, dan jumlah ikan yang tertangkap dapat membantu memberikan gambaran perubahan hasil tangkapan dari waktu ke waktu. Data tersebut berpotensi menjadi bahan evaluasi untuk mendorong praktik penangkapan ikan yang bertanggung jawab dan menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan.


Ketua KNTI Polewali Mandar, Muhammad Muhsin R., berharap sosialisasi tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat organisasi nelayan di Desa Karama.

“Kami berharap di Desa Karama ini nantinya terbentuk pengurus basis KNTI. Dengan begitu, kelompok-kelompok kecil nelayan dapat terorganisir dengan baik untuk bersama-sama memperjuangkan hak-haknya,” kata Muhammad Muhsin R.


Pembentukan pengurus basis KNTI di tingkat desa diharapkan dapat menjadi wadah bagi nelayan untuk memperkuat komunikasi, membangun solidaritas, dan menyampaikan aspirasi secara bersama. Organisasi yang lebih terstruktur juga dapat membantu nelayan mengidentifikasi kebutuhan serta memperjuangkan kepentingan mereka.


Sosialisasi ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan pemetaan partisipatif dan pengorganisasian nelayan tradisional di Desa Karama. Pendataan wilayah tangkap dan hasil perikanan, apabila dilakukan secara berkelanjutan, dapat menjadi sumber informasi bagi nelayan dalam mendukung keselamatan melaut, keberlanjutan sumber daya laut, dan penguatan hak-hak mereka.


Bagikan Berita Ini: