Kembali ke Berita Kegiatan KKN, Pengembangan UMKM, Program Kerja

Menenun Cerita, Merawat Budaya Mandar

Sutriani
• 19 Oct 2026 • 8 Dilihat • 5 menit baca
Menenun Cerita, Merawat Budaya Mandar

Pandewulawang, 19 September 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Angkatan IV Posko Pandewulawang Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Polewali Mandar melaksanakan kegiatan kunjungan ke pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Panette atau pengrajin sarung tenun yang berada di Lingkungan Pandewulawang, Kelurahan Balanipa, Kecamatan Balanipa. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap potensi usaha masyarakat setempat, khususnya dalam bidang kerajinan tradisional yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi.


Panette merupakan istilah dalam bahasa Mandar yang berkaitan dengan aktivitas menenun. Kegiatan menenun sarung tradisional Mandar menjadi salah satu warisan budaya yang memiliki makna penting bagi masyarakat. Selain berfungsi sebagai bagian dari pakaian adat dan identitas budaya, sarung tenun Mandar juga mencerminkan keterampilan, ketekunan, kreativitas, serta nilai-nilai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, keberadaan para pengrajin sarung tenun memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian budaya lokal agar tetap dikenal dan dihargai oleh masyarakat luas.


Lingkungan Pandewulawang sendiri memiliki potensi dalam bidang kerajinan sarung tenun. Keberadaan para penenun di lingkungan tersebut menunjukkan bahwa keterampilan tradisional masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Aktivitas menenun tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber penghasilan bagi keluarga. Melalui keterampilan yang dimiliki, para pengrajin menghasilkan produk yang memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi motif, warna, maupun proses pembuatannya.


Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa KKN berkesempatan untuk melihat secara langsung aktivitas para pelaku UMKM dalam menjalankan usaha sarung tenun. Mahasiswa mengamati proses pembuatan sarung tenun serta mengenal tahapan-tahapan yang dilakukan oleh pengrajin hingga menghasilkan produk yang siap digunakan atau dipasarkan. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata mengenai proses produksi kerajinan tradisional yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, keterampilan, dan waktu yang tidak sedikit.


Selain mengamati proses produksi, mahasiswa KKN juga berdiskusi dengan para pelaku UMKM mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan keberlangsungan usaha. Pembahasan meliputi proses pembuatan produk, pemanfaatan bahan baku, pemasaran hasil tenunan, serta kendala yang dihadapi dalam menjalankan usaha sehari-hari. Melalui diskusi tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa menjalankan usaha kerajinan tradisional tidak hanya membutuhkan keterampilan dalam menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memerlukan strategi pemasaran yang tepat agar produk dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.


Kegiatan kunjungan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami kondisi UMKM secara langsung, termasuk peluang dan tantangan yang dihadapi oleh para pengrajin. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah pentingnya memperkenalkan produk sarung tenun kepada masyarakat yang lebih luas. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi masyarakat, pemanfaatan media digital dapat menjadi salah satu peluang untuk membantu memperluas jangkauan pemasaran produk lokal. Dengan pengenalan yang lebih luas, sarung tenun Mandar berpotensi menjangkau konsumen dari berbagai daerah, tidak hanya masyarakat setempat.


Dari sudut pandang pengembangan bisnis, produk sarung tenun memiliki peluang untuk dikembangkan melalui strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik produk dan kebutuhan pasar. Keunikan motif, nilai tradisional, serta proses pembuatan yang memiliki ciri khas dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen. Oleh sebab itu, pengenalan cerita di balik proses pembuatan sarung tenun, keterampilan para pengrajin, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya dapat membantu meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap produk tersebut.


Bagi mahasiswa KKN, kunjungan ini bukan sekadar kegiatan silaturahmi, melainkan juga menjadi sarana pembelajaran untuk mengenal potensi ekonomi masyarakat secara langsung. Mahasiswa dapat memahami bagaimana keterampilan tradisional dapat menjadi bagian dari kegiatan usaha yang mendukung perekonomian keluarga. Selain itu, kegiatan ini memberikan pengalaman mengenai pentingnya membangun komunikasi yang baik dengan pelaku UMKM, mendengarkan kebutuhan mereka, serta mengenali peluang pengembangan usaha berdasarkan kondisi nyata di lapangan.


Kunjungan tersebut juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan. Sarung tenun Mandar tidak hanya memiliki nilai sebagai produk kerajinan, tetapi juga menyimpan cerita tentang identitas, tradisi, dan keterampilan masyarakat yang patut dijaga. Dengan adanya perhatian dari berbagai pihak, termasuk generasi muda dan mahasiswa, diharapkan kerajinan tradisional ini dapat terus berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang menjadi ciri khasnya.


Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Angkatan IV Posko Pandewulawang berharap dapat meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya mendukung UMKM lokal sebagai salah satu penggerak perekonomian masyarakat. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui pengenalan produk, peningkatan apresiasi terhadap hasil kerajinan, serta upaya memperluas informasi mengenai potensi usaha yang dimiliki oleh masyarakat setempat.


Kegiatan kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mengenali lebih jauh kebutuhan dan potensi UMKM Panette di Lingkungan Pandewulawang. Informasi yang diperoleh selama kegiatan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merancang program kerja KKN yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam mendukung pengembangan usaha dan pelestarian kerajinan sarung tenun Mandar.


Pada akhirnya, kunjungan mahasiswa KKN ke UMKM Panette Pandewulawang menjadi pengalaman berharga yang mempertemukan semangat pengabdian mahasiswa dengan kearifan lokal masyarakat. Kegiatan ini mengajarkan bahwa potensi daerah tidak hanya terletak pada sumber daya alam, tetapi juga pada keterampilan, kreativitas, dan warisan budaya yang dimiliki oleh masyarakatnya.


Melalui kolaborasi, kepedulian, dan upaya pengembangan yang berkelanjutan, sarung tenun Mandar diharapkan dapat terus bertahan sebagai warisan budaya sekaligus berkembang menjadi produk lokal yang memiliki daya saing. Dengan demikian, keterampilan para pengrajin tidak hanya menjadi bagian dari tradisi masa lalu, tetapi juga menjadi peluang untuk membangun masa depan ekonomi masyarakat yang lebih baik.

Bagikan Berita Ini: